Makalah Konsep Iman dalam Pendidikan Karakter

Konsep Iman dalam Pendidikan Karakter
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan karakter merupakan sebuah pendidikan yang dianggap hal yang paling dibutuhkan dalam dunia pendidikan dewasa ini. Pengembangan sistem pendidikan nasional telah semakin maju dan diharapkan lebih dapat memberikan kemakmuran bagi warganya, di samping persatuan dan kesatuan bangsa serta pembentukan kepribadian dan budaya bangsa.[1] Sebagai umat Islam, pendidikan karakter hendaknya sesuai dengan sistem pendidikan Islam. Sistem ajaran Islam dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu bagian aqidah (keyakinan), bagian syariah (aturan-aturan hukum tentang ibadah, dan muamalah), dan bagian akhlak (karakter). Ketiga bagian tersebut tidak dapat dipisahkan, harus menjadi satu kesatuan yang utuh yang saling memengaruhi. Aqidah merupakan pondasi yang menjadi tumpuan terwujudnya syariah dan akhlak. Sementara itu, syariah merupakan bentuk bangunan yang hanya bisa terwujud bila dilandasi oleh aqidah yang benar dan akan mengarah pada pencapaian akhlak (karakter) yang seutuhnya[2]. Dengan demikian, akhlak (karakter) sebenarnya merupakan hasil atau akibat dari terwujudnya bangunan syariah yang benar yang dilandasi oleh pondasi aqidah yang kokoh. Tanpa aqidah dan syariah tidak akan terwujud akhlak (karakter) yang sebenarnya.

Pendidikan karakter juga tidak terlepas dari penanaman nilai-nilai moral dan keagamaan bagi siswa. Kesadaran akan pentingnya nilai, moral dan keagamaan serta pengembangan pengajaran yang memadukan keimanan dan ketaqwaan sejalan dengan esensi pendidikan sebagai sarana perubahan. Paulo Freire[3] menyatakan bahwa pendidikan dipandang sebagai salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi manusia menjadi manusia agar terhindar dari berbagai bentuk penindasan, kebodohan, sampai ketertinggalan. Oleh karenanya sebagai pusat pendidikan, manusia harus menjadikan pendidikan sebagai alat pembebasan guna mengantarkan dirinya menjadi makhluk yang bermartabat. Pernyataan ini menunjukkan pentingnya fungsi pendidikan dalam membentuk manusia yang ideal.

Makalah Konsep Pendidikan Karakter dalam Islam

Sementara Iman, sebagai landasan pokok pendidikan haruslah berdasar pada Alquran dan Hadits. Karena, tanpa keduanya manusia tidak akan paham mengenai keyakinan yang seharusnya diyakininya. Dalam makalah ini kita hanya akan membahas tentang konsep iman sehingga dapat kita asumsikan sebagai amaliah rohani dan mengesampingkan terlebih dahulu implikasi pada amaliah jasmani. Memang menjadi sebuah perdebatan diantara para ulama aliran Islam, yaitu apakah rukun iman cukup sekedar pembenaran dalam hati saja atau harus juga dibarengi dengan lisan dan perbuatan. Iman juga merupakan pokok-pokok keyakinan bagi seorang hamba, seperti menyangkut iman kepada Allah dan Rasul-Nya, Iman kepada Malaikat-Nya, Iman kepada Kitab yang dibawa oleh seorang Rasul, Iman kepada adanya Hari Kiamat serta iman kepada adanya Qada dan Qodar Allah.[4]

Jadi menanamkan Iman kedalam jiwa merupakan cara yang paling tepat untuk mewujudkan unsur-unsur yang baik. Dengan terwujudnya unsur yang baik, maka manusia dapat melaksanakan peranya secara sempurna dalam kehidupan,dan dapat memberikan andil yang sangat besar untuk menumbuhkan dan memperkokoh tauhid di dalam diri seseorang. Orang yang beriman terhadap Allah diharuskan juga untuk mengetahui sifat Allah. Muhammad bin Yusuf bin Umar bin Su’aib Assanusi berkata :

ويجب على مكلف شرعا أن يعرف ما يجب في حق مولانا جلّ وعز وما يستحيل وما يجوز[5]

“Secara syara’ wajib bagi setiap Mukallaf untuk mengetahui sesuatu yang wajib ada dalam hak-Maulana Jala wa ‘Azza dan sesuatu yang mustahil bagi-Nya dan sesuatu yang mungkin baginya.”

Berdasarkan pernyataan diatas, semua orang mukalaf (sehat, berakal, baligh, dll) wajib mengetahui tentang sifat Tuhan, baik yang Wajib, Mustahil dan Jaiz. Dengan di-Qiyaskan dengan pendapat tersebut, kita juga harus mengetahui sifat yang wajib, mustahil dan jaiz bagi Rasul Allah. Kemudian gabungan dari semua itu biasa disebut dengan Aqoid 50 sebagai landasan dasar dari keimanan setiap muslim. Beruntung kita sebagai orang yang terlahir dari keluarga dan lingkungan yang Islam sehingga kita bisa meyakini dan membenarkan dalil-dalil naqli yang diberikan kepada kita. Tapi, bagi orang yang “belum beruntung” dan bagi orang yang ingin menambah keimanannya perlu melakukan sebuah (نظر) analisis supaya tidak dianggap sebagai keyakinan yang taklid[6].

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep Keimanan menurut al-Quran ?
2. Bagaimana konsep Pendidikan karakter dalam al-Quran ?

3. Adakah hubungan antara konsep Keimanan dengan Pendidikan Karakter ?

C. Tujuan Makalah

1. Untuk mengetahui konsep Keimanan menurut al-Quran
2. Untuk mengetahui konsep Pendidikan Karakter dalam al-Quran
3. Untuk mengetahui hubgungan antara Keimanan dan pendidikan Karakter

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Iman

Iman menurut bahasa berasal dari kata آمَنَ – يُؤمِنُ – إيمَاناً yang memang berarti beriman atau percaya[7]. Menurut Ibnu Katsir secara istilah Iman adalah membenarkan segala perkataan nabi Muhammad.[8] Kandungan keimanan secara esensial sesungguhnya terkandung dalam surat al-Ikhlas dengan fungsi memurnikan tauhid.

1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."

Asbabun nuzul dari surat Al-Ikhlas dari Turmudzi dan Hakim adalah pada saat orang Yahudi mengatakan mereka menyembah Uzair putera Tuhan, orang Nasrani mengatakan menyembah Al-Masih putera Allah, orang Majusi menyembah matahari dan bulan. Kemudian mereka bertanya kepada nabi Muhammad ”jelaskan kepada kami siapa Tuhanmu?” kemudian nabi diperintahkan untuk mengucapkan surat al-Ikhlas tersebut[9].

Surat al-ikhlas dikatakan oleh Khatib Ar-Rayi Diyaudddin: Rasul berkata siapaun orang yang membaca surat alIkhlas layaknya ia membaca 1/3 dari keseluruhan al-Quran dan diberi balasan ( ألأجر ) 10 kebaikan dengan memperhitungkan antara orang yang menyekutukan Allah dan orang yang beriman kepada Allah[10]. Dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang membaca surat al-Ikhlas memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari orang Musyrik. Secara kualitas memang dalam surat al-Ikhlas ini dijelaskan mengenai bentuk murni dari keimanan manusia. Dalam riwayat lain Nabi Juga berkata siapapun orang yang membaca surat al-Ikhlas sekali saja, maka Allah akan memberinya balasan layaknya orang yang beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab dan Rasul Allah dan orang itu akan diberi balasan sama dengan 100 orang syahid.

Jadi orang yang beriman cukup dengan meyakini Tuhanya hanya 1, dan menggantungkan semua urusanya kepada Tuhan yang 1 tersebut. Serta meyakini bahwa Allah tidak melahirkan dan tidak dilahirkan dan tidak ada yang menyamai Allah. Kemudian jika memang akan dimanifestasikan, Allah Berfirman dalam surat al-Anfal ayat 2-4 dan pada dasarnnya semua manifestasi tersebut harus didasarkan ketergantungan pada Allah atau dalam kata lain lilahita’ala :

2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka.

4. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.

B. Konsep Pendidikan Karakter

Istilah karakter digunakan secara khusus dalam konteks pendidikan baru muncul pada akhir abad ke-18, terminologi karakter mengacu pada pendekatan idealis spiritualis dalam pendidikan yang juga dikenal dengan teori pendidikan normatif, dimana yang menjadi prioritas adalah nilai transenden yang dianggap sebagai motivator dan dinamisator sejarah, baik individu maupun kelompok sosial.

Doni A. Koesoema menengarai pendidikan karakter sudah dimulai dari Yunani. Dari zaman inilah dikenal konsep arête (kepahlawanan) dari bangsa Yunani, kemudian konsepsi Socrates yang mengajak manusia untuk memulai tindakan dengan “mengenali diri sendiri” dan “ilusi pemikiran akan kebenaran”. Doni A. Koesoema juga menjelaskan keseluruhan historis pendidikan karakter dengan urutan: homeros, hoseiodos, Athena, Socrates, Plato, Hellenis, Romawi, Kristiani, Modern, Foerster, dan seterusnya.[11]

Dalam kacamata Islam, secara historis pendidikan karakter merupakan misi utama para nabi. Nabi Muhammad sejak awal tugasnya bersabda sesuatu pernyataan yang unik, yakni bahwa dirinya diutus untuk menyempurnakan karakter (akhlak). Manifesto Muhammad Rasulullah ini mengindikasikan bahwa pembentukan karakter merupakan kebutuhan utama bagi tumbuhnya cara beragama yang dapat men-ciptakan peradaban. Pada sisi lain, juga menunjukkan bahwa masing-masing manusia telah memiliki karakter tertentu, namun belum disempurnakan[12].

Sebagaimana yang dikutip dalam buku Character of Education karangan Thomas Lickona, bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan untuk “membentuk“ kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya. Ada dua paradigma dalam pendidikan karakter yaitu :

1. Paradigma yang memandang pendidikan karakter mencakup pemahaman moral yang sifatnya lebih sempit (Narrow scope to moral education). Pada paradigma ini disepakati oleh adanya karakter tertentu yang tinggal diberikan kepada peserta didik.

2. Melihat dari pendidikan karakter dari isu-isu moral yang sifatnya lebih luas. Paradigma ini memandang pendidikan sebagai pedagogi, menempatkan individu yang terlibat dalam dunia pendidikan menjadi subyek dan pelaku utama dalam pengembangan karakter. Paradigma ini memandang peserta didik sebagai agen tafsir, penghayat sekaligus pelaku nilai-nilai yang ditemukanya berdasarkan kebebasanya.

Pendidikan karakter yang berbasis Al-Quran dan Sunnah, gabungan dari keduanya adalah menanamkan karakter tertentu sekaligus memberi benih agar peserta didik mampu menumbuhkan karakter khasnya pada saat menjalani kehidupanya. Hanya menjalani sejumlah gagasan atau model karakter saja tidak akan mebuat anak menjadi manusia yang tahu bagaimana menghadapi perubahan zaman, sebaliknya membiarkan anak sedari awal supaya mengembangkan nilai pada dirinya tidak akan membuahkan hasil apapun karena tidak ada yang mengarahkan anak tersebut menemukan jati dirinya. Allah menyebutkan dalam Qs. Nuh ayat 17 : Dan Allah menumbuhkan kamu sekalian dari tanah dengan sebaik-baiknya,

1. Kata (أنبت) merupakan fiil muta’adi kemudian disambung dengan dlomir كم Dalam tafsir al-Kabir dijelaskan hal tersebut merupakan bentuk dimana seorang individu mendapat sebuah perlakuan dari lingkunganya. Tidak ada keterangan apapun setelah kata tersebut yang menunjukan keterangan dalam keadaan apa manusia mengalami perlakuan dari lingkunganya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Allah bisa menumbuhkan seorang manusia dalam keaadaan baik maupun buruk.

2. Kata من الأرض merupakan keterangan tempat dimana manusia dihidupkan. Seperti kita tahu sekarang ini lingkungan manusia adalah semua yang ada di Bumi.

3. Kata نباتا merupakan maf’ul mutlak dari أنبت tapi maf’ul mutlak disini merupakan bentuk masdar dari fiil Lazim. Sehingga yang diharapkan dari ayat al-Quran tersebut adalah dalam kondisi lingkungan apapun manusia seharusnya mampu berkembang dengan sendirinya. Harapanya tentu berkembang secara baik.[13]

Konsep ini sesuai dengan konsep perkembangan konvergensi yang dikemukakan oleh William Stern dari Jerman dengan pandangan yang lebih akomodatif. Hasil sintesa tersebut mengatakan bahwa manusia lahir di dunia ini dalam kondisi tertentu serta telah membawa bakat dan sekaligus bakat itu tidak akan berfungsi jika tidak dikembangkan oleh dirinya sendiri. Meskipun berkembang dalam lingkungan yang mendukung tapi manusia tersebut tidak mau mengembangkan potensi bawaanya, maka perkembangannya akan gagal. Namun meskipun manusia hidup dalam lingkungan buruk sekalipun, ketika manusia mau dan mampu untuk mengembangkan potensi bawaanya, maka manusia tersebut akan dapat berkembang dengan baik.

Jika dikaitkan dengan surat at-Tin ayat 4 : Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Seluruh jenis manusia dapat diibaratkan sebagai bibit unggul. Namun ternyata manusia sering lupa bahwa dirinya diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya.[14] Manusia lebih sering menurut terhadap perlakuan lingkungan terhadapnya sehingga lingkungan mempunyai pengaruh terhadapnya. Padahal, sesungguhnya terkadang juga manusia menolak kondisi lingkunganya sehingga lingkungan berpengaruh keterbalikan dengan dirinya[15].

C. Hubungan Iman dan Karakter Manusia


Karakter yang dapat kita artikan sebagai penggabungan antara Fitrah dan pengaruh lingkungan memiliki hubungan dengan keimanan yang ada pada diri manusia. Sebelum seorang manusia dilahirkan ke dunia ini sesungguhnya mereka terlah diambil kesaksian oleh Allah pada zaman azali dahulu. Seperti diterangkan dalam firman Allah pada surat al A’raaf ayat 172 :

172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)",

Serta Allah berfirman dalam surat ar-Ruum ayat 30 :

30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui

Fitrah Allah dalam ayat diatas maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Dan bahkan sejak zaman azali manusia sudah dimbil kesaksian bahwa Tuhan mereka hanya Allah, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantaran pengaruh lingkungan.

Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa manusia sejak lahir sudah membawa fitrah keimanan. Sayang sekali manusia lebih sering lupa akan fitrah tersebut dan banyak terpengaruh oleh lingkungan. Padahal pada kenyataan banyak juga anak orang Nasrani atau yahudi yang masuk Islam atau sebaliknya orang Islam yang
murtad. Semua hal tersebut tergantung pada manusia tersebut.[16]

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari penjelasan diatas adalah sessungguhnya perkembangan karakter anak dimulai sejak jauh bahkan sebelum kelahiran. Dapat diambil pelajaran dari Nabi bahwa seorang anak yang sudah beranjak dewasa dianjurkan untuk menikah demi menghasilkan keturunan yang memang diharapkan. Hal tersebut merupakan sebuah daur yang berulang dari orang tua dan kemudian berulang pada anak mereka ketika anak tersebut berubah menjadi orang yang lebih dewasa.

Untuk mendidik seorang anak pada usia muda, orang tua dalam arti luas diwajibkan untuk memerintahkan anaknya untuk melakukan ibadah-ibadah wajib. Hukuman juga dianggap perlu untuk pendidikan, tapi hukuman tersebut dikenakan kepada orang yang telah memenuhi criteria untuk dihukum. Sementara pembelajaran dan pendidikan karakter adalah menanamkan karakter tertentu sekaligus memberi benih agar anak mampu menumbuhkan karakter khasnya pada saat menjalani kehidupannya. Hanya menjalani sejumlah gagasan atau model karakter saja tidak akan membuat anak menjadi manusia kreatif yang tahu bagaimana menghadapi perubahan zaman, Sebaliknya membiarkan sedari awal agar anak mengembangkan nilai pada dirinya tidak akan berhasil, mengingat anak tidak sedari awal menyadari kebaikan dirinya.

Adapun konsep pendidikan karakter dalam hadits adalah sebagai berikut:

a. Pembentukan karakter yang didasari keteladanan akan menuai kebaikan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Oleh karenanya pengaruh keluarga sebagai tempat pendidikan pertama bagi sang anak harus berupa orang-orang yang baik pula.

b. Dalam pandangan Islam, manusia lahir di dunia ini membawa fitrah, potensi, kemampuan dasar atau pembawaan (hereditas). Fitrah itu akan berkembang tergantung dari bagaimana lingkungan itu mempengaruhi. Tetapi, dalam perkembanganya seorang anak bisa menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekitar

Sedangkan Iman menurut bahasa kata آمَنَ – يُؤمِنُ – إيمَاناً yang memang berarti beriman atau percaya[17]. Menurut Ibnu Katsir secara istilah Iman adalah membenarkan segala perkataan nabi Muhammad.[18] Kandungan keimanan secara esensial sesungguhnya terkandung dalam surat al-Ikhlas dengan fungsi memurnikan tauhid dan surat al Anfal 2-4.

Baca Juga: Pendidikan Islam Versus Pendidikan Kapitalistik

B. Daftar Referensi

Al-Dasuqi, Muhammad bin Ahmad, Hasiyah Addasuqi ‘ala Umul Barohin (Lebanon, Darul Khotob Al-Ilmiyyah, 2013 edisi 6)

Al-Quran dan Terjemah ( Jakarta, Almahira, 2011)

Fahrurrozi, FahrudinImam, Tafsir Al Kabir (Mafatihul Ghoib) (Beirut, Libanon, Darul Fikr)

Hambali, Bambang Q-Anees dan Adang , Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’ân, (Bandung: PT. Simbiosa Rekatama Media, 2008)

Jalaludin, Imam al Mahali dan Assuyuti, Tafsir Jalalain ( Beirut, Darul Khotob Al Ilmiyah, 2013)

Katsir Ibnu, Muhctasor Tafsir Ibnu Katsir (Lebanon, Darul Al-Quranul Karim 1981)

Kuntoro, Sodiq A.. “Menapak jejak pendidikan nasional Indonesia”, dalam buku Kearifan sang profesor, bersuku-bangsa untuk saling mengenal. (Yogyakarta: UNY Press.2006)

Lubabul nukul fi Asbabunnuzul dalam Imam Jalaludin : tafsir jalalain (Beirut, Darrul Khotob Al-Ilmiyyah, 2013)

Marzuki Syeh Sayyid, A’qidatul Awam (Qudus, Menara Qudus, 2009)

Marzuki.“Prinsip dasar pendidikan karakter perspektif Islam”. Dalam buku Pendidikan karakter, dalam perspektif teori dan praktik. (Yogyakarta: UNY Press,2011)

Palmer, Joy A. Fifty Modern Thinkers on Education. (Routledge. London. 2001)

Q-Anees, Bambang dan Adang Hambali, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’ân, (Bandung: PT. Simbiosa Rekatama Media, 2008)

Yasin, A. Fatah, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008)

Yunus, Mahmud, Kamus Indonesia-Arab (Jakarta, Yayasan penerjemah dan penafsir al-Quran, 1973)

Yunus, Mahmud, Kamus Indonesia-Arab (Jakarta, Yayasan penerjemah dan penafsir al-Quran, 1973)

Catatan Kaki

[1] Sodiq A. Kuntoro. “Menapak jejak pendidikan nasional Indonesia”, dalam buku Kearifan sang profesor, bersuku-bangsa untuk saling mengenal. (Yogyakarta: UNY Press.2006) hal. 132

[2] Marzuki.“Prinsip dasar pendidikan karakter perspektif Islam”. Dalam buku Pendidikan karakter, dalam perspektif teori dan praktik. (Yogyakarta: UNY Press,2011) hal. 468

[3] Paulo Freire dalam Joy A. Palmer, Fifty Modern Thinkers on Education. (Routledge. London. 2001) hal. 131

[4]Syeh Sayyid Marzuki, A’qidatul Awam (Qudus, Menara Qudus, 2009) hal 4-5

[5] Muhammad bin Ahmad al-Dasuqi, Hasiyah Addasuqi ‘ala Umul Barohin (Lebanon, Darul Khotob Al-Ilmiyyah, 2013 edisi 6) hal. 68

[6] Muhammad bin... hal. 26

[7] Mahmud Yunus, Kamus Indonesia-Arab (Jakarta, Yayasan penerjemah dan penafsir al-Quran, 1973) hal. 49

[8] Ibnu Katsir, Muhctasor Tafsir Ibnu Katsir (Lebanon, Darul Al-Quranul Karim 1981) hal. 29

[9] Lubabul nukul fi Asbabunnuzul dalam Imam Jalaludin : tafsir jalalain (Beirut, Darrul Khotob Al-Ilmiyyah, 2013) hal. 300

[10] Imam Fahrurrozi, Tafsir Al Kabir (Mafatihul Ghoib) (Beirut, Libanon, Darul Fikr Jilid 30) hal. 174

[11] Bambang Q-Anees dan Adang Hambali, Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’ân, (Bandung: PT. Simbiosa Rekatama Media, 2008), hlm. 100

[12] Ibid

[13] Imam Fahrurrozi, Tafsir Al Kabir (Mafatihul Ghoib) (Beirut, Libanon, Darul Fikr Jilid 30) hal. 140-141

[14] Imam Jalaludin al Mahali dan Assuyuti, Tafsir Jalalain ( Beirut, Darul Khotob Al Ilmiyah, 2013) hal. 433

[15] A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm. 60

[16] Imam Fahrurrozi, Tafsir Al Kabir (Mafatihul Ghoib) (Beirut, Libanon, Darul Fikr Jilid 25) hal. 120

[17] Mahmud Yunus, Kamus Indonesia-Arab (Jakarta, Yayasan penerjemah dan penafsir al-Quran, 1973) hal. 49

[18] Ibnu Katsir, Muhctasor Tafsir Ibnu Katsir (Lebanon, Darul Al-Quranul Karim 1981) hal. 29

0 Response to "Makalah Konsep Iman dalam Pendidikan Karakter"

Post a Comment