Makalah FIlsafat: Teori Epistemologi Modernisme dan Pasca Modernisme

Teori Epistemologi Modernisme dan Pasca Modernisme
Oleh: Sirajuddin

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dapat dikatakan seperti sebuah pohon yang tumbuh dan berkembang, dan kemudian mati dan tumbuh kembali pohon baru, dan kemudian mati dan tumbuh kembali. Seperti itu juga halnya analisa penulis setelah beberapa pertemuan dalam mata kuliah filsafat Ilmu yang mempelajari tentang teori-teori epistemologi ilmu pengetahuan.

Dalam sejarah manusia, kita kenal tiga era atau zaman yang memiliki ciri khasnya masing-masing yaitu pra-modern, modern dan postmodern. Zaman modern ditandai dengan afirmasi diri manusia sebagai subjek. Apalagi setelah pernyataan Rene Descartes, “cogito ergo sum” yang artinya ‘aku berpikir maka aku ada’. Melalui pernyataan tersebut, manusia dibimbing oleh rasionya sebagai subjek yang berorientasi pada dirinya sendiri sehingga rasio atau akal budi manusia menjadi pengendali manusia terutama tingkah lakunya. 

Pada masa ini munculah berbagai macam teori yang berlaku sampai sekarang. Pada akhirnya yaitu zaman dimana kita berada sekarang yaitu zaman postmodern. Pemikiran pada periode ini menamakan dirinya postmodern, memfokuskan diri pada teori kritis yang berbasis pada kemajuan dan emansipasi. Kemajuan dan emansipasi adalah dua hal yang saling berkaitan, seperti yang dinyatakan oleh Habermas bahwa keberadaan demokrasi ditunjang oleh sains dan teknologi.

Dalam makalah ini akan dikemukakan sejarah munculnya postmodern sebagai ‘isme’ yang mengritik modernitas, juga akan dipaparkan beberapa tokoh pada periode ini beserta ajaran-ajaran pokok meraka.

Dalam makalah ini penulis nantinya akan memafarkan sesuai hasil pembacaan dan hasil pemahaman penulis mengenai dua hal penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan yaitu teori epistimologi moredernisme dan pasca modernisme atau lebih dikenal dengan istilah post modernisme.

Makalah Filsafat, Teori Epistemologi Postmodernisme


B. Rumusan Masalah

Berdasarkan gambaran umum mengenai epistimologi modernisme dan pasca modernisme yang telah di paparkan dalam bab pendahuluan diatas maka untuk lebih sistematisnya pembahasan dan memudahkan dalam memahami kedua aliran pemikiran tersebut maka penulis jabarkan dalam rumusun masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana sejarah munculnya epistimologi modernisme dan epistimologi postmodernisme serta siapa tokoh-tokoh pemikiran antara kedua aliran tersebut? 
2. Bagaimana perbedaan antara kedua aliran tersebut?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Munculnya Aliran Modernisme dan Postmodernisme

Sejarah filsafat terdiri dari tiga periode. Periode pertama, adalah periode klasik, sebagai kelanjutan era kuno yang dimulai dari Athena, Alexsanderia, dan pusat-pusat pemikiran Helenistik dan Roma. Periode kedua, adalah periode pertengahan dan periode ketiga, adalah periode modern yang dilanjutkan dengan periode post-modernisme.

Munculnya masyarakat modern sekitar 200 tahun yang lalu di Eropa Barat selalu merangsang pertanyaan banyak orang. Apa yang menjadi sebabnya? Mengapa kebudayaan modoren muncul pada abad ke – 18, dan mengapa misalnya di eropa barat kenapa kemudian misalnya muncul di Cina. Dimana pengetahuan teknologi lebih maju dari pada di Eropa.[1]

Socrates masuk pada kategori era klasik bersama para filosof lainnya, semisal Plato yang menjadi muridnya dan kemunculan Aristoteles sebagai murid dari Plato menjadi puncak keemasan era filsafat klasik. Filsafat Plato menemukan sebuah realitas sejati yang disebutnya sebagai dunia ide yang merangkum segala bentuk Kebenaran berdasarkan ide atau sisi rasionalitas manusia. Baginya realitis fisik adalah refleksi terhadap dunia ide. Berbeda dengan muridnya, Aristoteles memperkenalkan paham realisme. Menurutnya realitas adalah benda-benda konkrit yang menciptakan kesatuan antara bentuk dan subtansi.

Setelah masa Aristoteles, wacana kefilsafatan menjadi redup. Kerakteristik filsafat Barat abad pertengahan adalah pembenaran terhadap otoritas Kitab. Salah seorang yang terkenal pada masa itu adalah Thomas Aquinas (1225-1274 M), K. St. Bona Venture (1221-1257M). Pemikiran mereka berusaha untuk merekonsiliasi antara akal dan wahyu. Mereka berusaha menjabarkan dogma-dogma Kristen dengan ajaran filsafat. Akal pada waktu itu bagaikan hamba perempuan untuk memuaskan nafsu “kelaki-lakian” teologi Kristen. Seorang tokoh lain yang muncul pada waktu itu adalah St. Agustinus (1354-1430M) bahkan tidak percaya dengan kekuatan akal dalam mencari kebenaran apapun.

Masyarakat modern adalah masyarakat yang berdasarkan industrilisasi. Industri yang menjadi darah daging masyarakat modern bukan hanya untuk bidang ekonomi tapi meliputi seluruh kehidupan masyarakat.[2]

Peradaban Eropa modern terbentang mulai dari abad -15 hingga abad ke-19 dengan watak pemberontakannya terhadap periode pertengahan. Bertrand Russel, sebagaimana dikutip oleh Rodliyah Khuzai, mengemukakan lima perbedaan antara periode modern dibanding periode pertengahan. 
  1. Pertama, berkurangnya otoritas gereja dan meningkatnya otoritas ilmu. 
  2. Kedua, kekuasaan gereja yang semula dominan mulai berkurang dan digantikan fungsinya oleh raja. 
  3. Ketiga, jika abad pertengahan manusia berusaha memahami dunia (theorical science), maka masa modern manusia berusaha mengubah dunia yaitu (practical Science). 
  4. Keempat, jika pada masa pertengahan manusia yang berusaha memahami dunia dan tidak sesuai dengan isi kitab suci maka akan dihukum. Tetapi pada masa modern penolakan terhadap kitab suci dianggap sah jika menemukan sebuah teori yang dilandasi oleh ilmu pengetahuan. 
  5. Kelima, kebebasan dari otoritas gereja menimbulkan individualisme atau bahkan anarkisme. 

Modernisme di Eropa telah dimulai sejak tahun 1800an. Pada era ini, ditemukan teori relatifitas, dimulainya industrialisasi serta ilmu pengetahuan sosial yang memancing gaya–gaya baru dalam bidang seni. Pergerakan seni pada era ini sejalan dengan hal–hal diatas, gebrakan–gebrakan dapat terlihat pada 15 tahun pertama abad ke 19. Bisa dilihat dari munculnya gaya lukisan abstrak ekspresionis di tahun 1903 yang dipelopori oleh Wassily Kandinsky dan bangkitnya cubism di tahun 1908 yang dipelopori Pablo Picasso dan Georges Braque.[3] 

Di awal Perang Dunia ke 1, tekanan dan ketidaknyamanan keadaan sosial yang terjadi seperti saat Revolusi Rusia, telah memunculkan pergerakan – pergerakan radikal dalam seni yang menolak kebiasaan–kebiasaan lama. Dimulai ketika Komposer ternama Rusia Igor Stravinsky di tahun 1913 mencoba memunculkan pertunjukan yang menunjukan manusia yang menjadi korban, serta Pablo Picasso dan Paul Matisse yang menolak sistem perspektif traditional yang menjadi ciri khas lukisan terstruktur, hal seperti ini bahkan belum pernah dilakukan oleh para pelukis impresionis sekelas Cezanne sekalipun. 

Inilah yang mulai memperjelas apa yang sebenarnya diistilahkan sebagai “Modernism”, yaitu penolakan serta pergerakan terhadap kesederhanaan gaya Realis dalam literature dan seni, serta mengubah tonality dalam musik.[4]

Postmodernisme bersifat relatif. Kebenaran adalah relatif, kenyataan (realitas) adalah relatif, dan keduanya menjadi konstruk yang tidak bersambungan satu sama lain.[5] Hal tersebut jelas mempunyai implikasi dalam bagaimana kita melihat diri dan mengkonstruk identitas diri. Hal ini senada dengan definisi dari Friedrich Wilhelm Nietzsche sche (1844-1900) dikenal sebagai nabi dari postmedernisme. 

Dia adalah suara pionir yang menentang rasionalitas, moralitas tradisional, objektivitas, dan pemikiran-pemikiran Kristen pada umumnya. Nietzsche sche berkata, “Ada banyak macam mata. Bahkan Sphinx juga memiliki mata; dan oleh sebab itu ada banyak macam kebenaran, dan oleh sebab itu tidak ada kebenaran.” Menurut Romo Tom Jacob, kata ‘postmodern’ setidaknya memiliki dua arti: (1) dapat menjadi nama untuk reaksi terhadap modernisme, yang dipandang kurang human, dan mau kembali kepada situasi pra-modernisme dan sering ditemukan dalam fundamentalisme; (2) suatu perlawanan terhadap yang lampau yang harus diganti dengan sesuatu yang serba baru dan tidak jarang menjurus kearah sekularisme.

B. Perbedaan Modernisme dan Postmodernisme 

Pemikir evalengical, Thomas Oden, berkata bahwa periode modern dimulai dari runtuhnya Bastille pada tahun 1789 (Revolusi Perancis) dan berakhir dengan kolapsnya komunisme dan runtuhnya tembok berlin pada tahun 1989. Modernisme adalah suatu periode yang mengafirmasi keeksistensian dan kemungkinan mengetahui kebenaran dengan hanya menggunakan penalaran manusia. Oleh karena itu, dalam arti simbolik penalaran menggantikan posisi Tuhan, naturalisme menggantikan posisi supernatural. 

Modernisme sebagai pengganti dinyatakan sebagai penemuan ilmiah, otonomim manusia, kemajuan linier, kebenaran mutlak (atau kemungkinan untuk mengetahui), dan rencana rasional dari social order Modernisme dimulai dengan rasa optimis yang tinggi. Sedangkan postmodernisme adalah sebuah reaksi melawan modernisme yang muncul sejak akhir abad 19. Dalam postmodernisme, pikiran digantikan oleh keinginan, penalaran digantikan oleh emosi, dan moralitas digantikan oleh relativisme. 

Kenyataan tidak lebih dari sebuah konstruk sosial; kebenaran disamakan dengan kekuatan atau kekuasaan. Identitas diri muncul dari kelompok. Postmodernisme mempunyai karakteritik fragmentasi (terpecah-pecah menjadi lebih kecil), tidak menentukan (indeterminacy), dan sebuah ketidakpercayaan terhadap semua hal universal (pandangan dunia) dan struktur kekuatan. 

Dalam sebuah reverensi lain disebutkan perbedaan mendasar mengenai modernisme dan postmodernisme tersebut menyebutkan bahwa modernisme adalah kata lain dari penerangan humanis. 

Perbedaan Antara Modernisme dan Pos Modernisme

No
Modernisme
Post Modernisme
1
Romantisme
Parapsikis/dadaisme
2
Berusaha/Bekerja
Bermain
3
Rencangan yang suda jadi
Tantangan untuk membentuk
4
Hirarki
Anarki
5
Materi, logika
Imateri, perasaan
6
Benda seni, kata jadi
Penampilan
7
Jarak
Partisipasi
8
Sintesis
Antitesis
9
Kehadiran
Ketidak hadiran
10
Pemusatan
Penyebaran
11
Konstruksi
Dekonstruksi
12
Aliran, pembatasan
Teks, antar teks
13
Semantik
Retorika
14
Paradigma
Sintagma
15
Metapora
Metonim
16
Seleksi
Kombinasi
17
Kedalaman
Permukaan
18
Interprestasi
Melawan interprestasi
19
Membaca
Kesalahan membaca
20
Bahasa baku
Dialek
21
Gejala
Keinginan

C. Perkembangan Sejarah dan Tokoh-tokoh Postmodern

Pada awalnya, kata postmodern tidak muncul dalam filsafat ataupun sosiologi. Wacana postmodern ini pada awalnya muncul dalam arsitektur dan kemudian juga dalam sastra. Arsitektur dan sastra ‘postmodern’ lebih bernafaskan kritik terhadap arsitektur dan sastra ‘modern’ yang dipandang sebagai arsitektur totaliter, mekanis dan kurang human. Akhirnya, kritik terhadap seni arsitektur dan sastra modern ini menjadi kritik terhadap kebudayaan modern pada umumnya yang dikenal sebagai erapostmodern.[6] 

Postmodern sebagai Filsafat pertama kali muncul di Perancis pada sekitar tahun 1970-an, terlebih ketika Jean Francois Lyotard menulis pemikirannya tentang kondisi legitimasi era postmodern, dimana narasi-narasi besar dunia modern (seperti rasionalisme, kapitalisme, dan komunisme) tidak dapat dipertahankanlagi. Benih posmo pada awalnya tumbuh di lingkungan arsitektur. Charles Jencks dengan bukunya The Language of Postmodern Architecture (1975) menyebut post modern sebagai upaya mencari pluralisme gaya arsitekture setelah ratusan terkukung satu gaya. 

Postmodernisme lahir di St. Louis, Missouri, 15 Juli 1972, pukul 3:32 sore. Ketika pertama kali didirikan, proyek rumah Pruitt-Igoe di St. Louis di anggap sebagai lambang arsitektur modern. Yang lebih penting, ia berdiri sebagai gambaran modernisme, yang menggunakan teknologi untuk menciptakan masyarakat utopia demi kesejahteraan manusia. Tetapi para penghuninya menghancurkan bangunan itu dengan sengaja. Pemerintah mencurahkan banyak dana untuk merenovasi bangunan tsb. Akhirnya, setelah menghabiskan jutaan dollar, pemerintah menyerah. Pada sore hari di bulan Juli 1972, bangunan itu diledakkan dengan dinamit. 

Menurut Charles Jencks, yang dianggap sebagai arsitek postmodern yang paling berpengaruh, peristiwa peledakan ini menandai kematian modernisme dan menandakan kelahiran postmodernisme. Akhirnya, pemikiran postmodern ini mulai mempengaruhi berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam bidang filsafat, ilmu pengetahuan, dan sosiologi. Postmodern akhirnya menjadi kritik kebudayaan atas modernitas. 

Apa yang dibanggakan oleh pikiran modern, sekarang dikutuk, dan apa yang dahulu dipandang rendah, sekarang justru dihargai. Nafas utama dari postmodern adalah penolakan atas narasi-narasi besar yang muncul pada dunia modern dengan ketunggalan terhadap pengagungan akal budi dan mulai memberi tempat bagi narasi-narasi kecil, lokal, tersebar, dan beranekaragam untuk bersuara dan menampakkandirinya.[7] 

Tokoh-Tokoh postmodern dan Ajarannya ini terbagi ke dalam dua model cara berpikir yakni dekonstruktif dan rekonstruktif. Para filsuf sosial berkebangsaan Prancis lebih banyak mendukung cara berpikir postmodern dekonstruktif ini. Para pemikir Perancis itu antara lain: Friedrich Wilhelm Nietzsche sche, ean Francois Lyotard, Jacques Derrida, Michel Foucault, Pauline Rosenau, Jean Baudrillard ,dan Richard Rorty. sementara pemikiran postmodern rekonstruktif dipelopori oleh Teori Kritis Mazhab Frankfurt seperti: Max Horkheimer, Theodor W Adorno, yang akhirnya dilengkapi oleh pemikiran JurgenHabermas.

1.Friedrich Wilhelm Nietzsche sche (1844-1900)

Lahir di Rochen, Prusia 15 Oktober 1884. Pada masa sekolah dan mahasiswa, ia banyak berkenalan dengan orang-orang besar yang kelak memberikan pengaruh terhadap pemikirannya, seperti John Goethe, Richard Wagner, dan Fredrich Ritschl. Karier bergengsi yang pernah didudukinya adalah sebagai Profesor di Universitas Basel. Menurutnya manusia harus menggunakan skeptisme radikal terhadap kemampuan akal. Tidak ada yang dapat dipercaya dari akal. Terlalu naif jika akal dipercaya mampu memperoleh kebenaran. Kebenaran itu sendiri tidak ada. Jika orang beranggapan dengan akal diperoleh pengetahuan atau kebenaran, maka akal sekaligus merupakan sumber kekeliruan.

2. Jacques Derrida (Aljazair, 15 Juli 1930–Paris, 9 Oktober 2004) 

Seorang filsuf Prancis keturunan Yahudi dan dianggap sebagai pendiri ilmu dekonstruktivisme, sebuah ajaran yang menyatakan bahwa semuanya di-konstruksi oleh manusia, juga bahasa. Semua kata-kata dalam sebuah bahasa merujuk kepada kata-kata lain dalam bahasa yang sama dan bukan di dunia di luar bahasa. Derrida dianggap salah satu filsuf terpenting abad ke 20 dan ke 21. Istilah-ilstilah falsafinya yang terpenting adalah dekonstruksi, dan différance.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari beberapa pendapat tersebut di atas, dapat dipahami bahwa teoritisi postmodern menawarkan intermediasi dari determinasi, perbedaan (diversity) daripada persatuan (unity), perbedaan daripada sintesis dan kompleksitas daripada simplikasi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa postmodernitas mengkhawatirkan namun demikian masih menggembirakan. Atau dengan kata lain, postmodernitas penuh dengan sebuah inomic-tercerabut antara kesempatan yang ia buka dan ancaman-ancaman yang bersembunyi dibalik setiap kesempatan. Juga kebanyakan kaum postmodernis memiliki, sebagaimana kita akan ketahui, sebuah pandangan yang jauh lebih pesimistis atas masyarakat postmodern. Hal tersebut sesuai dengan pemikiran Jameson (1989) bahwa masyarakat postmodern tersusun atas lima elemen utama, antara lain: 

1. Masyarakat postmodern dibedakan oleh superfisialitas dan kedangkalannya.
2. Ada sebuah pengurangan atas emosi atau pengaruh dalam dunia postmodern.
3. Ada sebuah kehilangan historisitas, akibatnya dunia postmodern disifatkan dengan pastiche.
4. Bukannya teknologi-teknologi produktif, malahan dunia postmodern dilambangkan oleh teknologi-teknologi reproduktif.
5. Ada sistem kapitalis multinasional.

B. Saran

Setelah penyusunan makalah yang dilakukan oleh penulis pada pembahasan di atas maka penulis akan memberikan saran dengan mengutip kata-kata Dr. Sabri AR. yang mengatakan bahwa alangkah indahnya kebersamaan karena kita terlanjur berbedah. Because, out of sight out of mind maka kenalilah ilmu niscaya kita akan menyayanginya. Kebenaran itu tergantung dipihak mana anda berada.

DAFTAR PUSTAKA

Franz Magnis Suseno. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis.; Kanisus Cet 14, Yogyakarta 1992

Hardiman Budi. Kritik Idiologi. Cet ke 5, Jogyakarta, 2009

www. google.com. teori epistimologi modernisme dan pasca modernisme. Diakses Tanggal 7 November 2011 pukul 15 wita.

Hardiman, Budi, Filsafat Moderen, dari Machiavelli sampai Nietzsche. Cet. II ; Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2007.

Heriyanto, Husain, Paradigma Holistik, Dialog Filsafat, Sains, dan Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead. Cet. I; Jakarta Selatan : Terjau, 2003.

Immanuel Kant, Zum ewigen Frieden: Ein Philosophischer Entwurf. terj. Arpani Harun, Immanuel Kant : Menuju Perdamaian Abadi, Sebuah Konsep Filosofis. Cet. I ; Bandung : IKAPI, 2005.

Mishbah Yazdi, Muhammad Taqi. Prof. Al-Manhaj Al-Jadid fi Ta’lim Al-Falsafah. terj. Musa Kazhim dan Saleh Bagir, Buku daras Filsafat Islam, Cet. I ; Bandung : Mizan, 2003.

Poedjawijatna, Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat. Cet. IX ; Jakarta : Rineka Cipta, 1994

S. Praja, Juhaya. Prof. Dr. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Cet. I; Bogor : Prenada Media, 2003.

Siswanto, Joko, Sistem-Sistem Metafisika Barat. Cet. I; Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1998.

Susseno, Frans Magnis, 13 Tokoh Etika, sejak zaman yunani sampai abad ke-19. Cet. VII, Yogyakkarta : Pustaka Filsafat.

0 Response to "Makalah FIlsafat: Teori Epistemologi Modernisme dan Pasca Modernisme"

Post a Comment